Feeds:
Posts
Comments

Ya ya ya ya
Finally I got it
Ya ya ya ya
A cake from a sweet guy

Its shape is little square
Maybe not as big as your notebook
But quite big for my own self

The taste is chocolate
Without myterious mint inside
More natural, gentle, and flexible

Oh no oh no
I think I’m in love
Oh no oh no
I know I shouldn’t
‘cause that guy has had a lover
And this chocolate cake I guess is just
A friendship cake

Ps: this lyrics is continuing cheese cake lyrics.. also adopted from my life story :D

Bad Connection

heart connection

accusation relationship between I and your bestbuddy
lots useless clarifications to the camel boy
miserable different community decreases my chance

an amateur joker versus a coquettish girl
your earlier marriage’s plan cooperates with your mysterious type of girl
could you detect my fear?

bullying and torturing me are your favourite
though world suggest me to hold on but I can’t stand any longer

destiny can’t be counted by mathematical science
and gambling is disgusting

I need true signals

or I’ll surrender

.

*cold floor, before friday nite..
NSW-stop hoping

Hanif

Gue lebih suka cowok hanif daripada ikhwan..

begitu kata kakak perempuan gue beberapa tahun yang lalu saat ngobrol bareng.

Perhatian: Bahasan ini berlaku untuk semua gender ya, bukan cowok doang!

Gue yang saat itu masih SMP (kalo gak salah inget), bertanya apa itu hanif.. dan dia bilang, hanif (arab) itu tau mana yang baik dan buruk, bisa membedakan mana yang benar dan salah, serta bisa menjaga dirinya untuk tetap berada pada jalur yang baik.

Dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 120, disebutkan bahwa Ibrahim AS memiliki sifat hanif, yang diartikan sebagai seseorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tidak pernah meninggalkannya.

Belum paham betul, gue pun bertanya, “Bukannya ikhwan sama aja kayak gitu juga?”. Yang gue tau saat itu, ikhwan adalah sebutan untuk cowok yang ngerti agama, dan biasanya tampil dengan pakaian sederhana, celana ngatung, dan jenggotan, that’s it! Arti ikhwan (arab) sebenarnya adalah laki-laki, tapi entah oleh siapa dipersempit menjadi laki-laki yang alim dan bergaya seperti itu :D

Kakak gue menjelaskan jawabannya, menurutnya cowok hanif itu gak mesti bergaya “ikhwan”.
Agak lupa, sepertinya saat itu gue berdebat cukup ngeyel karena gak ngerti, menurut gue setiap (cowok yang bergaya) ikhwan ya udah otomatis hanif juga, akhirnya gue mengendapkan obrolan hari itu dalam ingatan, dan sejak saat itu ada 1 tambahan klasifikasi dari laki-laki yang gue ketahui tanpa paham benar apa maksudnya, yaitu cowok hanif, selain dua jenis lainnya yang udah gue ketahui sebelumnya, yaitu cowok ikhwan dan cowok aja.

Masuk dunia SMA, gue dengan sangat jelas bisa membedakan antara cowok ikhwan dan cowok aja. Wajarlah, gue sekolah di SMA yang kata orang-orang suasana keagamaanya lebih heboh daripada pesantren, jadi dalam sekejap mata, gue bisa langsung tau yang mana ikhwan dan bukan ikhwan (cowok aja), hahaha sotoy parah.. dan yang gak baik adalah gue menilai mereka dari penampilan luarnya aja, astaghfirullah.. tapi kayak gitu lah jaman SMA, yang terlihat cuma hitam-putih, padahal dunia gak sesimpel itu.

Kuliah bikin gue bertemu banyak orang yang memiliki karakter berbeda-beda, mencoba mengenal kepribadian mereka, dan sepertinya sekarang gue mulai paham apa yang kakak gue maksud bertahun-tahun silam :D

Gue punya temen kuliah, perempuan, alhamdulillah sudah berjilbab (FYI: Pake jilbab itu dalam Islam hukumnya wajib lho buat perempuan) , dia orang yang murah senyum, pandai bergaul, berjiwa sosial yang cukup tinggi (atau pemberontak? Hahaha), pintar, santai, tapi gayanya agak tomboy.. dia gak hobi pake rok dan jilbabnya gak sepanjang mbak-mbak akhwat yang anggun-anggun, tapi pakaiannya tetap sopan, jeans pun selalu pake yang besar setingkat dibawah rapper, hobinya nonton bola sambil menemaninya belajar :D
Mungkin untuk yang baru kenal, akan melihat dia sebagai akhwat tomboy biasa, but she’s not! :D

Agak sedikit melenceng dari topik, di Indonesia jilbab semakin marak di masyarakat, tapi juga semakin bervariasi, mulai dari yang cuma menutupi kepala dan tubuh tapi tetap melekuk-lekuk hingga yang benar-benar berhijab; jilbab panjang, rok, kaos kaki, dan manset menjadi pakaian wajib mereka.

Nah, temen gue itu gaya berpakaiannya ada di tengah-tengah. Dia mengerti pentingnya memakai kaos kaki, dia tau bahwa jilbab seharusnya menutupi dada, dan dia paham kalau pake baju yang cuma mengganti warna kulit itu sama aja boong. Yang bikin gue salut, dia juga sadar dan memegang teguh prinsip-prinsipnya, seperti gak mau makan “DARAH” demi saudara-saudara di Palestina dan gak mau pacaran sebelum nikah.

Pernah denger istilah “Baur tapi gak Lebur”? Gue rasa teman gue ini salah satu contohnya. Dia membebaskan dirinya melanglang buana ke berbagai komunitas tanpa lupa jati dirinya, tanpa menggadaikan prinsip-prinsipnya. Sejauh gue mengenalnya, dia juga punya sifat-sifat yang mengagumkan, seperti jujur, dapat dipercaya, tidak suka menggunjing, senang berbagi, dan lain-lain. Semakin mengenalnya, semakin gue kagum padanya, Subhanallah :D

Nah, ini dia nih yang namanya hanif!

Mawar Berduri

Ada pendapat klasik yang mengatakan, “Do NOT JUDGE people by their COVER!”. Gue setuju banget sama pendapat ini. Orang yang hanif, gak bisa diliat dari gaya berpakaiannya. Orang yang hanif itu bisa dideteksi dari pemikirannya dan caranya bersikap. Biasanya sih pemahaman tersebut akan terepresentasikan juga melalui gaya berpakaiannya. Tapi banyak juga tuh yang gak gitu, kayak temen gue. Memang dia berjilbab (ya kan emang pake jilbab wajib) tapi gayanya gak seperti akhwat kalem yang menjadi dambaan ikhwan kalem :p

Pernah di suatu kepanitiaan acara ada ikhwan yang bilang, “Di acara nanti, akhwatnya tolong pake rok ya..”
Gue iseng bertanya, “Kenapa?”
“Gak apa-apa, biar lebih enak aja diliatnya, kan lebih enak ngeliatnya kalo akhwatnya pake rok..”, sahut ikhwan tersebut di balik hijab pembatas rapat. Alasan yang dangkal, pikir gue. Harusnya kalo dia ngerti, dia akan menjawab, “Agar gak memperlihatkan lekuk tubuh”.
Kondisi akhwat yang ikut rapat saat itu, gak semua akhwat bisa pake rok karena ada yang gak bawa rok ke kost-an, ada juga yang emang gak punya rok.
Gue protes, bareng beberapa akhwat lain, udah kayak mau tawuran (lebay), akhirnya ketua pun mendamaikan dengan berkata, “Gak harus pake rok, yang penting sopan”. YES! Gue cekikikan penuh kemenangan. Well, bukannya gue antipati sama rok, gue fleksibel kok, tapi gue gak mau ada temen yang gak dateng hanya karena masalah dress-code, gue gak mau jadi ada anggapan bahwa akhwat itu identik dengan rok, akhirnya bikin yang lain gak mau gabung, akhirnya jadi pecah-pecah, dan kalo gitu dakwah sebenarnya malah jadi gak nyampe, kan? (ups, sorry , tapi kenyataannya begitu..)

Tentang pendapat gue dulu yang mengira bahwa setiap (cowok yang bergaya) ikhwan otomatis pasti hanif, ternyata terbukti salah, akhwat juga gitu, hahaha. *gak mau bahas lebih jauh*

Hmm, sekarang gue paham maksud kakak gue dan gue cukup setuju dengannya.

*Let’s be Better!* :D

-NSW-

PS: Sahabat baik gue pernah bilang kalo dunia itu gak cuma hitam dan putih, tapi ada juga abu-abu didalamnya, semoga abu-abu merupakan sebuah fase untuk bertranformasi dari hitam menjadi putih, bukan malah sebaliknya.

Mandiri

Hari itu, 29 Desember 2009, saya bersama PR dan WF (nama disamarkan biar sok misterius) berencana untuk menonton film di salah satu mall di Cibubur. Ternyata eh ternyata, tiket yang masih tersisa hanya tiket mulai dari jam 18.00.. Berhubung takut pulang kemaleman, dan lagi saya masih harus menyelesaikan gambar untuk lomba yang deadline-nya tanggal 31 Desember 2009 (cap pos!), maka kami pun memutuskan untuk batal nonton..

Singkat cerita, kami pulang melewati sebuah kedai kopi yang menawarkan berbagai jenis kopi yang enak-enak yang harganya relatif mahal bagi saya si mahasiswa kere yang bisanya cuma ngopi di warung kopi doang hahaha!, di sana saya melihat orang-orang yang dari luar terlihat cukup mapan sedang asyik duduk di sofa berbincang-bincang sambil menikmati kopi hangat bak orang-orang Eropa yang ada di film-film, keliatannya waaah gitu di mata saya (lebay banget deh), lalu..
Saya : “liat aja ya ntar tiga tahun lagi gue bakal di dalem situ (baca: kedai kopi mahal) !”
PR : “jadi mbak-mbak waitress ya, hahaha..”
Saya : “hahaha.. enak aja! jadi customer laaah..”
PR : “loh? Kenapa mesti 3 tahun lagi?”
Saya : “iya ntar pake duit sendiri, nggak dari ortu lagi, kan udah mapan, hehehe.. amin!”

coffee smile

Terlepas dari rencana ngopi-ngopi 3 tahun lagi yang beneran bisa terwujud atau nggak, yang pasti saya pingin banget hidup mandiri secara total tanpa nyusahin ortu lagi, sukur-sukur bisa ngeringanin beban ortu, itu semua pasti jadi harapan setiap anak yang berbakti sama orangtuanya (sok berbakti banget deh gue).

Baru bertekad kayak gitu, tau-tau besoknya saya mulai nyusahin ibu saya dengan meminta, memohon, dan mengemis agar ibu saya mau membantu saya mengirimkan gambar untuk lomba ke kantor pos yang jaraknya cukup jauh dari rumah, karena saya punya janji lain, yaitu nonton acara tebak lagu di salah satu stasiun TV swasta dalam rangka mencari dana untuk acara PGD (Petroleum Gas Days) di kampus.

Walaupun di ketentuan lomba dituliskan deadline 31 Desember cap pos tapi saya nggak mau ambil resiko, maka dari itu saya memutuskan untuk mengirim gambar tersebut tanggal 30 Desember pagi, barulah saya pergi ke stasiun TV, tapi masalahnya teman saya baru memberi tahu kalau ternyata pergi ke stasiun TV itu juga pagi, untung ibu saya baik mau membantu setelah sebelumnya menasehati (baca: ngomelin) saya karena malah santai-santai main kemarin (29 Desember) bukannya serius nyelesein gambar jadi bisa dikirim hari itu juga, huhuhu.. maaf ya mama..

*I think I should fix my time management first* :D
-NSW-

Banyak hal terjadi di tahun 2009 yang membuat saya menjadi salah satu manusia labil di dunia

Jadi siapakah penyebab kelabilan saya yang terbesar?

Dia adalah teman yang belum pernah saya jumpai hingga detik saya menulis catatan ini.. dia yang hobi nonton berbagai jenis film kecuali film korea karena menurutnya bahasa korea terdengar aneh di telinganya :p

Di satu sisi, secara nggak langsung dia telah membuat saya semangat.. tapi di sisi lain, secara nggak langsung pula dia telah membuat saya kehilangan semangat..

Saya nggak tahu pastinya sejak kapan saya benar-benar mulai menaruh perhatian padanya..
Yang saya ingat awalnya saya hanya mengaguminya tapi belakangan ini kekaguman saya padanya semakin berlebihan hingga menimbulkan perasaan aneh lainnya..

Saya sadar dengan sangat, hal ini bisa berdampak baik tetapi juga buruk..
Namun, yang saya rasakan justru dampak buruknyalah yang semakin menghantui saya..
Kecemburuan, kekecewaan, merasa dilupakan, merasa diabaikan.. coba perhatikan, mungkin semua itu hanya perasaan saya, tapi itulah saya, kawan.. perasaan saya lebih dominan daripada logika..

Maka dari itu, di tahun 2010 ini, salah satu resolusi terbesar saya adalah mengurangi intensitas saya untuk berhubungan dengan orang tersebut..

Alhamdulillah, teman saya itu orang yang cukup bisa menjaga diri (buktinya saya udah gila kayak badut, dia masih kalem2 aja hahaha), jadi tantangan terbesarnya memang benar-benar hanya pada diri saya sendiri, mengontrol perasaan saya sampai tidak berlebihan lagi..

Awalnya saya sempat ragu apakah ini jalan terbaik, karena saya takut kalau saya menjaga jarak dengannya dalam rangka menjaga hati saya, keakraban yang kemarin sempat ada, malah akan lenyap.. tapi kalau dipikir-pikir, saya hanya ingin menormalkan kembali perasaan saya, toh nggak benar2 putus silaturahmi, hanya membiasakan diri saya tanpa menganggu hidupnya, pelan-pelan saya yakin pasti saya bisa, insya Allah, saya hanya nggak mau banyak orang yang terluka dan tersakiti karena pikiran dan tindakan negatif yang timbul dari perasaan saya itu.. saya ingin jadi pribadi yang positif!

Home, last day in 2009
Nindya *wish tomorrow will be better*

Cheese Cake

give me cheese cake

I know you give her a cake
The sweetest cake for her birthday
And I feel a bit jealousy
I want it too, babe
But don’t give me the same (give me cheese cake)
‘Cause I have a special offer to exchanged

So what are you waitin’ for?
Hurry, give me cheese cake
Then I’ll give you my heart
‘Cause all I really want is you
You make me addicted
More than what cheese cakes do to me

p.s: This is lyrics of the song that I made myself (booooo..!! hahaha)
Anyway, I still don’t get the melody.. I think I wanna make the easy listening one.. like Taylor Swift’s song-You Belong with Me
Well, maybe this lyrics look so silly but if you’re quite sensitive, i guess you’ll know what I mean, the real meaning hahaha..

My IDEAL ?

We all know if there’s nothing perfect in this world..

Tapi kita semua pasti punya kriteria ideal untuk suatu hal..
Ideal, suatu kesempurnaan yang subjektif..
Idealis itu nggak masalah, bahkan bila kita terlalu realistis, hidup itu akan terasa membosankan, seperti tidak punya mimpi, pasrah untuk ikut saja kemana aliran kehidupan membawa kita, nggak ada passion, nggak ada tantangan.. Tapi terlau idealis juga nggak bagus, kalau kelewat idealis akibatnya jadi tidak bisa berkompromi dengan kenyataan..
Anyway, gue jadi kepikiran..

Gimana tentang idealis dalam memilih pasangan, boleh nggak?

Go Jun Pyo, my perfect guy in drama Boys Before Flower :D

Berikut ini gue paparkan beberapa kriteria ideal tentang pasangan pria yang paling sering dilontarkan oleh wanita (urutan nomor bukan menentukan prioritas):
1. Tampan (yang ini sih biasanya cuma ngefek sebentar doang)
2. Pintar (nyambung lah ya kalo diajak ngobrol sama calon mertua hahaha)
3. Mapan (nggak usah kaya raya kok, cukup mapan aja :p)
4. Sholeh (bukan yang rajin ngingetin solat tapi juga rajin ngajak berduaan yaa hihihi)

Well, masih banyak kriteria lainnya sepeti humoris (kayaknya hobi nonton lawak nih), setia (mungkin pernah dikhianati? Sotoy abeees hahaha), dll..
Nah yang bikin gue jadi kepikiran adalah, bukannya Allah udah nentuin jodoh kita masing-masing, ya? Terus kalo gitu ngapain lagi kita nentuin kriteria berlebihan?

Papa pernah bilang ke gue, kalo dia jadi cewek, dia bakal ngeliat cowok dari 2 hal, yang pertama kesholehannya/ agamanya; yang kedua dari semangat usahanya.. karena menurut bokap gue, 2 hal itu yang penting dari seorang suami, agama untuk membimbing keluarga, dan semangat usaha/ kerja keras berarti dia bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga.. kemapanan itu akan berjalan mengikuti kedua hal tadi.. dan papa bilang, kalo dapet yang tampan itu bonus :D
Trus papa juga bilang..

Minta yang terbaik sama Allah..

Hmm.. I love talking ‘bout love with my Dad!

houseofmydad, december after exam..
eNin

Pijakan

mungkin inilah batasnya
limit di mana aku harus berhenti mengintai kamarmu
sebelum nelayan berhasil menemukan dermaganya
sehingga aku tak harus bermandikan derasnya air hujan
agar aku tak perlu membeli benang dan jarum penyembuh

salahku yang tak memakai teleskop saat pengklasifikasian bintang
khilafku yang bermain detektif dan menari terlalu cepat
karena kau tak pernah menjaring ikan di danauku
sebab bukan kau yang sengaja meniupkan angin semilir di pantaiku

andai kau mau berbaik hati menafkahkan sedikit belaskasihmu padaku
tapi toh aku tak kan sudi menerima hak takdirmu
aku memuja es di gunung saljumu
tapi kini kau tingkatkan titik leburmu
dan itu bukan untukku yang hanya bisa menatap sukacita kalian dalam imajinasi jarak jauh
kini aku harus membiarkan semua harta karun coklatku terbang dibawa kupu-kupu padang pasir

memang ini bukan penghujung drama romantismu
juga bukan gerbong terakhir keretaku
tapi aku terlalu letih meminum obat penghilang logika
biarlah Dia yang menjadi sutradara dan melanjutkan skenario kita
toh kau, aku, dan mereka tak tahu dimana jurang dan palung berada
jadi ku putuskan untuk bermain aman dan semoga aku sanggup bertahan

berpijak tanpa mengintai

pondok gede, 19 september 2009
nin *holyday-holyheart*

Iman Bukan Sekedar Ucapan

Di suatu petang, beberapa hari sebelum Hari Kemenangan umat Islam, saya dan beberapa teman di Departemen Teknik Kimia UI (yang terdiri dari program studi Teknik Kimia dan program studi Teknologi Bioproses) menyempatkan diri untuk buka puasa bersama dadakan di Kutek (Kukusan Teknik) dengan menu sop buah.
Sepulang dari warung sop buah, kami singgah di masjid terdekat untuk melaksanakan solat Magrib, kemudian berencana untuk melanjutkan makan besar, Nasi Padang :D
Dalam perjalanan menuju masjid, saya sempat curhat.. about someone beyond the sea, someone that I adore so much..
Dan tiba2 terdengar sebuah nasehat klasik nan berharga, “udahlah, kalo jodoh gak ke mana..”
Saya melanjutkan, “bener banget, kalo emang belom jodoh, mau gue kejar sampe gila juga gak bakal ketemu.. tapi kalo udah jodoh, mau dia di arab dan gue di indonesia, ya yang namanya jodoh pasti ketemu..”
Lalu terlontar kata2 dari seorang teman, “gileee nin,tingkatan iman lo udah tinggi banget tuh..”
Saya hanya tertawa miris, sambil meng-amin-i dalam hati..
Andai saya bisa seyakin itu..
Sebenarnya perkataan itu merupakan sesuatu yang saya inginkan dapat saya yakini dengan sepenuh hati sehingga saya gak perlu lagi memikirkan hal2 konyol dan bisa fokus meraih impian2 saya.. sambil berkata seperti itu, sejujurnya saya sedang berusaha membangun rasa percaya saya pada takdir Yang Maha Kuasa..
“Apa yang harus kau ragukan? Bukankah sampai saat ini Ia belum pernah mengkhianatimu.. kalaupun Ia tidak mengabulkan harapanmu, Ia selalu menggantinya dengan yang lebih baik.. mungkin kau kecewa pada awalnya tapi seiring berjalannya waktu, sambil mencari sudut pandang yang tepat, kau pasti bisa melihat bahwa skenario-Nya lah yang terbaik.. “

Nin-whostryin2believeinU

Syukur to the Max!

Di akhir liburan semester dua, saya sempat beberapa kali hangout berdua bareng ayah saya.. salah satu tujuannya yaitu Mangga Dua..
Kami pergi ke sana naek busway istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping pak supir yang sedang bekerja, mengendarai busway supaya baik jalannya.. halah..
Well, sampe di shelter mangga dua, sebuah pemandangan menakjubkan bisa dilihat dari atas jembatan penyeberangan, pemandangan dramatis dari sebuah sungai berwarna menakjubkan yang mengeluarkan aroma luar biasa dahsyat..
Gak tau deh nama tuh sungai apaan, yang jelas setelah ngeliat itu gue jadi pesimis bisa ada transportasi sungai di Indonesia, kayak di sungai Seine, Prancis gitu..
Salah siapa? Solusinya?
Yang pengen gue bahas di blog ini bukanlah perdebatan salah siapa dan harus bagaimana, melainkan tentang kisah sedih perihal sungai butek dan rakyat Indonesia yang diceritakan oleh bokap gue..
Alkisah, di suatu tempat wisata yang terletak di daerah Jakarta Utara, tempat bokap gue mangkal buat nyari duit, ada sebuah sungai kotor bin bau yang gak kalah saing deh sama sungai busuk di mangga dua tadi..
Kata bokap, dia sering ngeliat ada orang yang nyemplung ke sungai dekil di sana.. ih jorok banget kan.. ntar sakit kulit lho, cacingan juga! Huh, who cares? Buktinya penyelam sungai dekil masih aja kecibak-kecibuk di sana.. gila kali? Eh jangan salah cing, ternyata mereka nyebur ke sana buat nyari barang2/ sesuatu yang jatuh ke dalamnya, sesuatu yang berharga, yang bisa dijual untuk menafkahi keluarga..
Astaghfirullah..
Segitu sulitnya nyari pekerjaan, sampai sebuah pekerjaan yang gak masuk akal (di akal gue) pun dilakukan untuk terus bisa bertahan hidup..
Lalu, kenapa kita yang sudah diberi cukup kenikmatan ini masih saja belum bisa bersyukur? Bersyukur kalo mau makan gak perlu mikir lagi, tinggal santap saja apa yang ada di meja makan yang sudah disiapkan oleh ibunda tercinta, bersyukur masih bisa tidur nyenyak di atas kasur di dalam rumah, bersyukur karena masih bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang banyak orang pingin bisa kuliah di sana.. lalu kenapa yang keluar dari mulut ini hanya keluh kesah? ?
Untuk para penyelam sungai dekil, semoga Allah memberi kehidupan yang terbaik untuk kalian di dunia dan akhirat.. mungkin nin gak akan sanggup berjuang mencari sesuatu yang berharga di dalam gelapnya sungai itu, tapi nin akan berusaha untuk terus berjuang mencari sesuatu yang berharga di dalam rimba ilmu pengetahuan agar nanti bisa menciptakan perspektif yang indah untuk Indonesia, dipandang dari sudut mana pun juga, amin..

Older Posts »