Social networking telah menjadi suatu media yang berhasil membuat para penggunanya memiliki hobi baru, yaitu stalking a.k.a menguntit. Hal-hal yang tergolong stalking antara lain:
- Melihat-lihat data diri si korban secara detail (yang paling umum yaitu: school/university, relationship status, website, screen name)
- Melihat-lihat postingan2 di wall si korban (misalnya komen dan nge-wall dimana aja, recent activity nya ngapain aja)
- Melihat-lihat album foto si korban (bahkan sampai baca semua komen bodoh nya)
- Melihat-lihat hubungan si korban dengan seseorang misalnya melalui menu “see friendship” (menu ini semakin mendulung para stalker beraksi liar)
- Dan lain-lain yang tidak akan saya deskripsikan lebih jauh
Pernah melakukan salah satu dari kegiatan “melihat-lihat” tersebut? Kalo iya, berarti lo stalker :p
Menurut saya, stalking merupakan suatu hal yang wajar dilakukan di dunia maya. Banyak kenalan saya yang sembunyi-sembunyi atau terang-terangan memiliki hobi stalking.
Pesan saya kepada para korban adalah:
Jangan mem-publish apapun jika tidak mau di-stalk.
Ya, sesimpel itu solusinya.
Seharusnya si korban merasa beruntung telah di-stalk karena sadar atau tidak ketika mem-publish sesuatu tentu kita berharap mendapatkan tanggapan dari orang lain, at least diliat orang lah ya (kok kesannya pamer hahaha), bukan begitu? Nah, berarti si korban seyogyanya berterimakasih kepada si stalker, walopun si stalker bukan tipe yang suka ngasih feedback sih, cuma seneng observasi aja (bahkan ada yang jadiin bahan gosip)
Tapi tempo hari, saya gak sengaja baca surat Al-Hujurat : 12, yang intinya menyatakan agar kita jangan berprasangkan, jangan mencari-cari kesalahan, dan jangan menggunjing.
Yang menarik adalah footnote ayat tersebut, yaitu :
Haram hukumnya pula untuk berburuk sangka dan memata-matai kehidupan orang lain.
Stalking termasuk memata-matai kehidupan orang lain kah??? Kalau boleh berpendapat, yang namanya memata-matai itu, menurut saya, adalah mencari tahu secara diam-diam hal-hal yang ingin disembunyikan oleh si korban, misalnya aib yang tidak ingin diketahui orang banyak. Sedangkan stalking tidak demikian, stalking hanya dapat dilakukan apabila si korban mem-publish sesuatu dengan sangat ikhlas tanpa paksaan.
Terlepas dari dilema stalking dosa atau tidak, saya sih merasa stalking telah memberi banyak efek buruk pada diri saya. Contoh mudahnya adalah membuang-buang waktu untuk hal yang sangat tidak berguna. Niat buka social networking cuma buat bales komen / wall orang, eh malah liat yang aneh-aneh di news feed, dan jadi keterusan stalking lama, padahal harusnya waktu senggang itu bisa dipake buat ngelakuin hal lain yang lebih bermanfaat. Tapi di sisi lain, hobi stalking juga memberi saya banyak info berguna misalnya info lomba poster yang alhamdulillah bisa menang. Kalo ini sih stalking membawa berkah ya hahaha
Bener-bener dilema, fiuuuhhh..
Yaaah asal tau batasan-batasan nya, saya rasa stalking cukup aman untuk dilakukan. Balik ke diri masing-masing deh :p



kadang malah jadi hiburan tersendiri ya nin
.
bukannya kadang malah bikin galau ya kak? :p
eeaaaa hahaha
hedeh.. spam lo dhil wkwk
abisnya elo galau detected sih nin, hahaha
gw bahkan baru saja ngestalking dan targetnya adalah kamu nin
.
vup cup muah, jangan nangis. *jadi tauu kan gw*
yeee si kakak kurang kerjaan banget :p
btw kalo pake muah kok jadi geli ya
well, niat kita hanya mencari info kan
:p