Hanif

Gue lebih suka cowok hanif daripada ikhwan..

begitu kata kakak perempuan gue beberapa tahun yang lalu saat ngobrol bareng.

Perhatian: Bahasan ini berlaku untuk semua gender ya, bukan cowok doang!

Gue yang saat itu masih SMP (kalo gak salah inget), bertanya apa itu hanif.. dan dia bilang, hanif (arab) itu tau mana yang baik dan buruk, bisa membedakan mana yang benar dan salah, serta bisa menjaga dirinya untuk tetap berada pada jalur yang baik.

Dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 120, disebutkan bahwa Ibrahim AS memiliki sifat hanif, yang diartikan sebagai seseorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tidak pernah meninggalkannya.

Belum paham betul, gue pun bertanya, “Bukannya ikhwan sama aja kayak gitu juga?”. Yang gue tau saat itu, ikhwan adalah sebutan untuk cowok yang ngerti agama, dan biasanya tampil dengan pakaian sederhana, celana ngatung, dan jenggotan, that’s it! Arti ikhwan (arab) sebenarnya adalah laki-laki, tapi entah oleh siapa dipersempit menjadi laki-laki yang alim dan bergaya seperti itu😀

Kakak gue menjelaskan jawabannya, menurutnya cowok hanif itu gak mesti bergaya “ikhwan”.
Agak lupa, sepertinya saat itu gue berdebat cukup ngeyel karena gak ngerti, menurut gue setiap (cowok yang bergaya) ikhwan ya udah otomatis hanif juga, akhirnya gue mengendapkan obrolan hari itu dalam ingatan, dan sejak saat itu ada 1 tambahan klasifikasi dari laki-laki yang gue ketahui tanpa paham benar apa maksudnya, yaitu cowok hanif, selain dua jenis lainnya yang udah gue ketahui sebelumnya, yaitu cowok ikhwan dan cowok aja.

Masuk dunia SMA, gue dengan sangat jelas bisa membedakan antara cowok ikhwan dan cowok aja. Wajarlah, gue sekolah di SMA yang kata orang-orang suasana keagamaanya lebih heboh daripada pesantren, jadi dalam sekejap mata, gue bisa langsung tau yang mana ikhwan dan bukan ikhwan (cowok aja), hahaha sotoy parah.. dan yang gak baik adalah gue menilai mereka dari penampilan luarnya aja, astaghfirullah.. tapi kayak gitu lah jaman SMA, yang terlihat cuma hitam-putih, padahal dunia gak sesimpel itu.

Kuliah bikin gue bertemu banyak orang yang memiliki karakter berbeda-beda, mencoba mengenal kepribadian mereka, dan sepertinya sekarang gue mulai paham apa yang kakak gue maksud bertahun-tahun silam😀

Gue punya temen kuliah, perempuan, alhamdulillah sudah berjilbab (FYI: Pake jilbab itu dalam Islam hukumnya wajib lho buat perempuan) , dia orang yang murah senyum, pandai bergaul, berjiwa sosial yang cukup tinggi (atau pemberontak? Hahaha), pintar, santai, tapi gayanya agak tomboy.. dia gak hobi pake rok dan jilbabnya gak sepanjang mbak-mbak akhwat yang anggun-anggun, tapi pakaiannya tetap sopan, jeans pun selalu pake yang besar setingkat dibawah rapper, hobinya nonton bola sambil menemaninya belajar😀
Mungkin untuk yang baru kenal, akan melihat dia sebagai akhwat tomboy biasa, but she’s not!😀

Agak sedikit melenceng dari topik, di Indonesia jilbab semakin marak di masyarakat, tapi juga semakin bervariasi, mulai dari yang cuma menutupi kepala dan tubuh tapi tetap melekuk-lekuk hingga yang benar-benar berhijab; jilbab panjang, rok, kaos kaki, dan manset menjadi pakaian wajib mereka.

Nah, temen gue itu gaya berpakaiannya ada di tengah-tengah. Dia mengerti pentingnya memakai kaos kaki, dia tau bahwa jilbab seharusnya menutupi dada, dan dia paham kalau pake baju yang cuma mengganti warna kulit itu sama aja boong. Yang bikin gue salut, dia juga sadar dan memegang teguh prinsip-prinsipnya, seperti gak mau makan “DARAH” demi saudara-saudara di Palestina dan gak mau pacaran sebelum nikah.

Pernah denger istilah “Baur tapi gak Lebur”? Gue rasa teman gue ini salah satu contohnya. Dia membebaskan dirinya melanglang buana ke berbagai komunitas tanpa lupa jati dirinya, tanpa menggadaikan prinsip-prinsipnya. Sejauh gue mengenalnya, dia juga punya sifat-sifat yang mengagumkan, seperti jujur, dapat dipercaya, tidak suka menggunjing, senang berbagi, dan lain-lain. Semakin mengenalnya, semakin gue kagum padanya, Subhanallah😀

Nah, ini dia nih yang namanya hanif!

Mawar Berduri

Ada pendapat klasik yang mengatakan, “Do NOT JUDGE people by their COVER!”. Gue setuju banget sama pendapat ini. Orang yang hanif, gak bisa diliat dari gaya berpakaiannya. Orang yang hanif itu bisa dideteksi dari pemikirannya dan caranya bersikap. Biasanya sih pemahaman tersebut akan terepresentasikan juga melalui gaya berpakaiannya. Tapi banyak juga tuh yang gak gitu, kayak temen gue. Memang dia berjilbab (ya kan emang pake jilbab wajib) tapi gayanya gak seperti akhwat kalem yang menjadi dambaan ikhwan kalem :p

Pernah di suatu kepanitiaan acara ada ikhwan yang bilang, “Di acara nanti, akhwatnya tolong pake rok ya..”
Gue iseng bertanya, “Kenapa?”
“Gak apa-apa, biar lebih enak aja diliatnya, kan lebih enak ngeliatnya kalo akhwatnya pake rok..”, sahut ikhwan tersebut di balik hijab pembatas rapat. Alasan yang dangkal, pikir gue. Harusnya kalo dia ngerti, dia akan menjawab, “Agar gak memperlihatkan lekuk tubuh”.
Kondisi akhwat yang ikut rapat saat itu, gak semua akhwat bisa pake rok karena ada yang gak bawa rok ke kost-an, ada juga yang emang gak punya rok.
Gue protes, bareng beberapa akhwat lain, udah kayak mau tawuran (lebay), akhirnya ketua pun mendamaikan dengan berkata, “Gak harus pake rok, yang penting sopan”. YES! Gue cekikikan penuh kemenangan. Well, bukannya gue antipati sama rok, gue fleksibel kok, tapi gue gak mau ada temen yang gak dateng hanya karena masalah dress-code, gue gak mau jadi ada anggapan bahwa akhwat itu identik dengan rok, akhirnya bikin yang lain gak mau gabung, akhirnya jadi pecah-pecah, dan kalo gitu dakwah sebenarnya malah jadi gak nyampe, kan? (ups, sorry , tapi kenyataannya begitu..)

Tentang pendapat gue dulu yang mengira bahwa setiap (cowok yang bergaya) ikhwan otomatis pasti hanif, ternyata terbukti salah, akhwat juga gitu, hahaha. *gak mau bahas lebih jauh*

Hmm, sekarang gue paham maksud kakak gue dan gue cukup setuju dengannya.

*Let’s be Better!*😀

-NSW-

PS: Sahabat baik gue pernah bilang kalo dunia itu gak cuma hitam dan putih, tapi ada juga abu-abu didalamnya, semoga abu-abu merupakan sebuah fase untuk bertranformasi dari hitam menjadi putih, bukan malah sebaliknya.

8 thoughts on “Hanif

  1. wew…, terlepas dari masalah aurat-auratan.., saya setuju kalo emang penampilan gak selalu bisa jadi rujukan untuk mengetahui bagus buruknya akhlak seseorang. Tapi, perlu disadari pula bahwa kebanyakan orang dinilai dari penampilannya. (especially for thing so-called “first impression”).😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s