Mandiri

Hari itu, 29 Desember 2009, saya bersama PR dan WF (nama disamarkan biar sok misterius) berencana untuk menonton film di salah satu mall di Cibubur. Ternyata eh ternyata, tiket yang masih tersisa hanya tiket mulai dari jam 18.00.. Berhubung takut pulang kemaleman, dan lagi saya masih harus menyelesaikan gambar untuk lomba yang deadline-nya tanggal 31 Desember 2009 (cap pos!), maka kami pun memutuskan untuk batal nonton..

Singkat cerita, kami pulang melewati sebuah kedai kopi yang menawarkan berbagai jenis kopi yang enak-enak yang harganya relatif mahal bagi saya si mahasiswa kere yang bisanya cuma ngopi di warung kopi doang hahaha!, di sana saya melihat orang-orang yang dari luar terlihat cukup mapan sedang asyik duduk di sofa berbincang-bincang sambil menikmati kopi hangat bak orang-orang Eropa yang ada di film-film, keliatannya waaah gitu di mata saya (lebay banget deh), lalu..
Saya : “liat aja ya ntar tiga tahun lagi gue bakal di dalem situ (baca: kedai kopi mahal) !”
PR : “jadi mbak-mbak waitress ya, hahaha..”
Saya : “hahaha.. enak aja! jadi customer laaah..”
PR : “loh? Kenapa mesti 3 tahun lagi?”
Saya : “iya ntar pake duit sendiri, nggak dari ortu lagi, kan udah mapan, hehehe.. amin!”

coffee smile

Terlepas dari rencana ngopi-ngopi 3 tahun lagi yang beneran bisa terwujud atau nggak, yang pasti saya pingin banget hidup mandiri secara total tanpa nyusahin ortu lagi, sukur-sukur bisa ngeringanin beban ortu, itu semua pasti jadi harapan setiap anak yang berbakti sama orangtuanya (sok berbakti banget deh gue).

Baru bertekad kayak gitu, tau-tau besoknya saya mulai nyusahin ibu saya dengan meminta, memohon, dan mengemis agar ibu saya mau membantu saya mengirimkan gambar untuk lomba ke kantor pos yang jaraknya cukup jauh dari rumah, karena saya punya janji lain, yaitu nonton acara tebak lagu di salah satu stasiun TV swasta dalam rangka mencari dana untuk acara PGD (Petroleum Gas Days) di kampus.

Walaupun di ketentuan lomba dituliskan deadline 31 Desember cap pos tapi saya nggak mau ambil resiko, maka dari itu saya memutuskan untuk mengirim gambar tersebut tanggal 30 Desember pagi, barulah saya pergi ke stasiun TV, tapi masalahnya teman saya baru memberi tahu kalau ternyata pergi ke stasiun TV itu juga pagi, untung ibu saya baik mau membantu setelah sebelumnya menasehati (baca: ngomelin) saya karena malah santai-santai main kemarin (29 Desember) bukannya serius nyelesein gambar jadi bisa dikirim hari itu juga, huhuhu.. maaf ya mama..

*I think I should fix my time management first*😀
-NSW-

2 thoughts on “Mandiri

  1. Seorang teman (yang menurut saya cukup sukses) pernah bilang ke saya kurang lebih seperti ini, “Jangan lah kau mulai mandiri nanti, mandiri itu susah lho. Jangan kau kira kalau kau tiba di ‘mandiri’, trus kau tak akan ketemu hambatan. Cicil lah kesusahannya mulai dari sekarang.” (dengan logat melayu Batam yang khas😀 )

    Afwan ya nin, kalau kelihatannya menggurui banget (ane juga masih baru dalam fase ‘mandiri’). Soalnya, setelah baca tulisan ini, jadi teringat kata-kata sang teman tadi, hehehe :p

    Sekali lagi afwan. Syukran dah diingatkan untuk mandiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s