I’m a Proud Housewife! :D

Gue selalu ragu2 untuk mulai nulis lagi di blog. Dilema rasanya, emang perlu seluruh dunia tau apa yang gue alami dalam hidup? Tapi apa salahnya nulis lagi, toh belum tentu juga follower gue notice (emang punya follower? :p). But anyway, nulis adalah salah satu cara yang baik for release negativity, guilty feeling for example. So, here I am now.

It’s been 6 months since I decided to resign from my company. It’s my very first company, I got accepted there several months before I graduated.

Kenapa resign? Karena mau urus anak. Itu alasan yang gue submit ke HR. The fact is not that simple.

My baby Keenan sempet sakit, kurang kalori, MPASI-nya salah, gak sesuai gizi seimbang saran WHO. Selain itu, dia sempet bingung puting karena pemberian ASI menggunakan dot.

Loh yaudah, tinggal dibenerin aja kan MPASI-nya & nyusu pakai cup feeder. Still, not that simple. Gue nitip Keenan ke nyokap, rasanya ngerepotin banget kalau harus banyak cara begini begitu, kasihan nyokap udah tua suka pegel2 meski masih terhitung sehat, dan lagi itu bukan tanggung jawabnya. Ya, ngurus cucu bukan tanggung jawab nenek & kakek, FYI.

Yaaa kan lo bisa nyewa pembantu/baby sitter untuk urus anak lo, di bawah pengawasan nenek & kakek. Bener, ada yang memilih begitu. Tapi itu artinya akan sampai kapan gue dan keluarga nebeng tinggal di rumah orang tua gue? Padahal kami udah punya rumah sendiri. Kalau Keenan dianter-jemput ke rumah orang tua gue bisa aja sih, tapi takes time karena gak deket2 banget, apalagi kalo macet, yeah BEKASI.

How about Day Care? Bisa aja. Tapi Keenan masih kecil banget, 8 bulan saat gue memutuskan resign. Kalau ada apa2 belum bisa ngadu. Dan sederet pertimbangan lainnya.

Ribet ya? Emang. Tapi satu yang pasti memperkuat alasan gue resign adalah: produksi ASI gue makin lama makin menipis, pernah sehari cuma bisa mompa 30ml, dari sebelumnya 300-400ml. Warbiyasah. Kata dokter laktasi, oksitosin gue mandek padahal ASI gue banyak setelah beliau cek. Oksitosin itu hormon yang mempengaruhi pengeluaran ASI. Karena jarang disedot langsung sama baby, makin lama menyusut lah produksinya. Ada perkataan Ibu dokter yang bikin gue tertampar:

“Kamu tau kan menyusui anak hingga 2 tahun itu wajib hukumnya?”, ujar bu dokter, sambil menunjuk surat Al Baqarah yang ada di Buku Perkembangan Bayi milik Keenan.

“Hmm iyaaa sih dok, tapi bukannya ada kalimat lanjutannya ya di ayat itu, bahwa jika ingin menyapih sebelum 2 tahun tidak ada dosa…”, as always gue ngeyel.

“Ya itu berlaku misalnya jika ibunya hamil lagi sehingga jika member ASI akan berdampak buruk bagi kesehatan sang ibu dan bayi dalam kandungan, atau memang produksi ASI-nya sudah sedikit dari sananya. Tapi kamu kan gak gitu, produksi ASI mu masih banyak”, jawab bu dokter sambil memberi gue wejangan kalo belajar tafsir yang menyeluruh, ampun dok.

“Terus gimana dong, dok? Jadi saya harus resign?”, dan gue pun mulai bimbang…

“Ya saya gak nyuruh kamu resign”, ujarnya. Dokter pun suggest untuk menggunakan cup feeder. Dot bisa menyebabkan anak menderita bingung puting karena perasaan puas yang dihasilkan saat menghisap dot menyerupai saat menghisap langsung dari sang Ibu, kelebihannya adalah aliran yang dihasilkan oleh dot cenderung stabil, tidak seperti saat menyusu langsung pada Ibu, alirannya cenderung fluktuatif, ada fase gak deras, ada fase deras (dikenal dengan LDR – Let Down Reflect). Selain itu, gue pun dikasih surat cuti satu minggu agar bisa memberikan ASI langsung, supaya oksitosin gue lancar lagi.

Selama cuti gue banyak berpikir kembali akan semuanya. Tentang prioritas gue, tentang kerjaan dan karir di kantor, dan tentang cita-cita gue yang lain.

Gue paling takut ngecewain nyokap. Keliatan banget dari ekspresi wajahnya, nada bicaranya, sikapnya, nyokap gue less or more kecewa. Gue harapan terakhir nyokap, liat anak perempuannya jadi wanita karir, kerja kantoran, karena nyokap gue “hanyalah” Ibu Rumah Tangga dan kakak perempuan gue satu2nya memilih untuk jadi Ibu Rumah Tangga juga. Padahal menurut gue, nyokap gue super keren, berhasil mendidik anak2 perempuannya hingga bisa masuk FT UI semua.

Sampai pada keputusan harus resign bener2 bukan hal mudah, istikharah minta dimantapkan dan diberikan yang terbaik oleh Allah, diskusi segala hal dengan suami Alhamdulillah beliau sangat mendukung, curhat sama nyokap-bokap-kakak, sampai minta pendapat teman2 se-almamater yang udah jadi IRT duluan.

Dulu pernah ada bapak2 di kantor yang cerita bahwa saat dia dan istrinya masih sama2 kerja justru rasanya kebutuhan tetap aja gak bisa terpenuhi, rumah belum punya, mobil gak ada, anak gak diurus sendiri. Akhirnya sampai pada suatu titik mereka mendiskusikan semuanya bersama2, dan diputuskan untuk mengembalikan hak dan kewajiban masing2, suami kerja sedangkan istrinya resign untuk urus anak. Qadarullah, Alhamdulillah justru segala yang mereka butuhkan bisa didapat, rumah, mobil, anak pun jadi keurus. Intinya adalah gak usah takut, rezeki udah ada yang atur dan bisa datang dari arah yang tidak disangka2. Catatan tambahan dari si bapak adalah sang istri harus qonaah.

Beliau cerita itu ke gue bahkan di masa awal gue masuk kerja, luar biasa gak? Begitu banyak “pertanda” di sekitar gue…

Mungkin kalau gue gak pindah2 Dept. dalam waktu singkat karena alasan domisili sehingga membuat gue berada di jenjang yang sama sampai gue memutuskan resign…

Mungkin kalau posisi terakhir gue gak di bagian yang harus selalu bisa dihubungi kapanpun dibutuhkan sehingga membuat gue berpikir ulang tentang quality time bersama keluarga…

Mungkin kalau gue gak punya bakat lain dari kecil yang bikin gue terus menerus mempertanyakan apakah gue bisa mewujudkan cita-cita gue itu…

Mungkin kalau gue gak pernah denger curhatan temen2 gue yang Ibu mereka adalah wanita karir, dan mereka merasa gak deket dengan Ibu mereka ketika melihat interaksi gue dan nyokap yang seperti teman…

Bahkan mungkin kalau setelah cuti selama 7 hari ternyata ASI gue tetep aja gak ada perubahan, tetap 30ml per hari meskipun udah segala macam makanan dan booster ASI gue coba sampai stress sendiri…

Maka keputusan gue gak akan pernah sebulat ini.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

Setelah cuti, apalagi setelah resign, produksi ASI gue pun mulai meningkat lagi, mungkin karena bahagia, gak ada beban kerja dan terlibat dengan “politik” di kantor? Who knows hahaha.

Gue jadi punya banyakkk bangettt waktu sama Keenan, dia nempel banget sama gue sampe2 ke kamar mandi, ke dapur, ke mana2 diikutin, he’s my biggest fans yeah.

Suami gue pun sangat mendukung cita-cita gue, dia support gue untuk join les memperdalam skill gue, yang insyaaAllah nantinya akan jadi karir gue ke depan aamiin.

Nyokap gue? Alhamdulillah perlahan2 beliau pun mulai menerima keadaan, karena pada dasarnya beliau tau setelah berumahtangga keputusan benar2 berada di tangan gue dan suami.

Dan yang paling seru, hal2 baik yang diceritakan bapak2 di kantor dulu Alhamdulillah mulai terjadi juga pada keluarga kami. Memang sesungguhnya Allah telah menyiapkan yang terbaik.

Semoga Allah selalu memberkahi keluarga kecil kami, semoga selalu dicukupkan rezekinya, diberi kesehatan, dan bisa bersama2 berjuang menggapi ridho-Nya, hingga bertemu kembali di surga-Nya kelak, aamiin ya rabbal alaamiin :’)

Semoga kamu yang baca, bisa menghargai apapun yang udah gue putuskan ya. Memilih untuk berkomentar “Great choice, Nin” rather than “Gak sayang gelar masternya? Gak sayang karirnya?”. Well, I’ve already accepted both kind of comment in real world, it’s okay :p

.

.

.

Cheers!

Nindya Sani, known as Mama Keenan / Mrs. Dimas Sanjaya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s